Filed under: by: Tanfux

Makalah

Latar Belakang Munculnya Aliran Tasawuf

Seperti yang telah diketahui, bahwa katika terbunuhanya khalifah Usman ibn Affan RA terjadilah kekacauan dan kemorosotan akhlak. Hal ini menyebabkan sahabat-sahabat yang masih ada, dan pemuka islam yang mau berpikir, berikhtiar membangkitkan kembali ajaran islam, pulang masuk masjid, kembali mendengarkan kisah-kisah mengenai targhib dan tarhib, mengenai keindahan hidup zuhud dan lain sebagainya. Inilah benih tasawauf yang paling awal yakni ketika kekuasaan islam makin meluas, ketika kehidupan ekonomi dan sosial makin mapan, maka mulailah orang-orang lalai pada sisi ruhani. Saat itulah tumbuh gerakan tasawuf yakni gerakan yang bertujuan untuk mengingatkan tentang hakekat hidup.

Sebenarnya bibit tasawuf sudah ada sejak itu, garis-garis besar mengenai thoriq sudah ada kelihatan disusun, dalam ajaran-ajaran yang dikemukakan disana-sini sudah mulai dianjurkan mengurangi makan, menjauhkan diri dari keramaian (zuhud), mencelah dunia dan lain-lain. Inti tasawuf adalah tekun beribadah, memutuskan hunungan dari selain Allah, menjauhi kemewahan dan kegemerlapan duniawi, meninggalkan kelezatan harta dan tahta yang sering dikejar kebanyakan manusia dan mengasingkan diri dari mamnusia untuk beribadah. 
Namun istilah tasawwuf dan sufi dalam tradisi keilmuan Islam hanya digunakan sekitar akhir abad kedua Hijrah, yiaitu selepas munculnya aliran-aliran pemikiran dan ideologi dalam Islam seperti Syiah, Khawarij, Muktazilah, Ahli Sunnah dan lain-lain. Setiap kelompok memiliki orang-orang yang zuhud dan ahli ibadat. Justeru itu, kedua-dua istilah ini tidak digunakan bahkan tidak diketahui di zaman sahabat dan tabi‘in.
Berikut teori-teori mengenai asal mula munculnya aliran tasawuf dalam Islam dengan dimensi yang berbeda-beda, antara lain. 
1. Pengaruh Kristen dengan paham menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri dalam biara-biara. Dikatakan bahwa Zahid dan sufi Islam meninggalkan dunia, memilih hidup sederhana dan mengasingkan diri, adalah pengaruh cara hidup rahib-rahib Kristen.
2. Falsafat Mistik pythagoras yang berpendapat bahwa roh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang asing. Badan jasmani merupakan penjara bagi roh. Kesenangan roh adalah di alam samawi. untuk memeproleh hidup senang di alam samawi, manusia harus membersihkan roh dengan meninggalkan hidup materi, yaitu Zuhud. Ajaran Pythagoras untuk meninggalkan dunia dan pergi berkontlemplasi, inilah menurut pendapat sebagian orang yang mempengaruhi timbulya Zuhud san Sufisme dalam Islam. 
3. Falsafat amanasi Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancar dari Zat Tuhan Yang Maha Esa. Roh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tetapi dengan masuknya kealam materi , roh jadi kotor, dan untuk dapat kembali keasalnya Roh harus terlebih dahulu dibersihkan. Penyucian Roh adalah dengan dunia dan mendekati Tuhan dengan sedekat mungkin. Dikatan pula bahwa falsafat ini mempunyai pengaruh terhadap munculnya kaum Zahid dan Sufi dalam Islam.
4. Ajaran Budha dengan faham Nirwananya. Untuk mencapai Nirwana, orang harus bisa meninggalkan Dunia dan memasuki hidup Kontemplasi. Faham Fana yang terdapat dalam sufisme hampir serupa dengan faham Nirwana.
5. Ajaran-ajaran Hinduisme yang juga mendorong manusia untuk meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dan Brahman.
Inilah beberapa faham dan ajaran yang menurut teorinya mempengaruhi timbul dan munculya sufisme dikalangan umat Islam.
Zuhud yang dalam ajaran-ajaran agama non Islam semula hanya merupakan usaha individu untuk tidak tertarik terhadap kesenangan duniawi perlahan-lahan seiring perjalanan waktu mulai diterima oleh umat Islam. Apalagi bila melihat kenyataan bahwa zuhud adalah sebuah tiang penyangga bagi perilaku luhur. Atau dalam bahasa yang lebih tegas, zuhud pada hakikatnya merupakan solusi bagi problematika sosial yang disebabkan kecenderungan yang berlebihan terhadap materi. Dengan demikian, zuhud tidak bisa dipahami sebagai sikap antipati terhadap permasalahan keduniawian, namun harus dipandang sebagai satu sikap berlaku proporsional dan bertindak bijaksana dalam menyikapi permasalah keduniawian. Artinya, zuhud bukan berarti keterputusan dari kehidupan duniawi sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh kalangan pendeta, akan tetapi merupakan hikmah pemahaman yang membuat seseorang memiliki pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi itu. Mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan kalbunya dan tidak membuat mereka mengingkari Tuhan-nya. 
Yang menarik, penerimaan umat Islam terhadap zuhud ternyata dengan signifikan dibarengi munculnya kesadaran rohani. Apalagi bila mengingat bahwa zuhud yang pada hakikatnya merupakan benih-benih tasawuf ternyata tergambar dalam pribadi Nabi. Dalam kehidupan Nabi, umat bisa berkaca dan mengambil contoh bagaimana siklus kehidupan Nabi sangatlah sufistik. 
Tetapi bagaimanapun, dengan ataupun tanpa pengaruh-pengaruh dari luar, sufisme bisa timbul dalam Islam. Di dalam Islam terdapat ayat-ayat yang mengatakan bahwa manusia dekat sekali dengan Tuhan. Diantaranya:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”.  
Tuhan disini menyatakan bahwa ia dekat pada manusia dan mengabulkan permintaan yang meminta. Oleh kaum sufi do’a disini diartikan berseru, yaitu Tuhan mengabulkan seruan orang yang ingin dekat dengan-Nya.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. 
 Ayat ini mengandung arti bahwa Tuhan ada didalam, bukan diluar diri manusia. Dalam Hadits ada yang mengabarkan dekatnya hubungan manusia dengan Tuhan.
“ orang yang mengetahui dirinya, itulah orang-orang yang mengetahui Tuhan.”
Jadi, terlepas dari kemungkinan adanya atau tidak adanya pengaruh dari luar, ayat-ayat serta Hadits seperti tersebut di atas dapat membawa kepada aliran sufi dalam Islam.

Sejarah Perkembangan Tasawuf

Para mayoritas ahli sejarah berpendapat bahwa terma tasawuf dan sufi adalah sebuah terma yang muncul setelah abad II Hijriah. Sebuah terma yang sama sekali baru dalam agama Islam. Pakar sejarah juga sepakat bahwa yang mula-mula menggunakan istilah ini adalah orang-orang yang berada di kota Bagdad Irak. Pendapat yang menyatakan bahwa terma tasawuf dan sufi adalah baru serta terlahir dari kalangan komunitas Bagdad merupakan satu pendapat yang disetujui oleh mayoritas penulis buku-buku tasawuf. 

Menurut cacatan sejarah, dari shabat Nabi Huzaifah bin al Yamani inilah pertama-tama mendirikan Madrasah Tasawuf . tetapi pada masa itu belumlah terkenal dengan nama Tasawuf, masih sangat sederhana sekali. Imam sufi yang pertama di dalam sejarah Islam yaitu Al Hasan Al Basry seorang ulama besar Tabiin, adalah murid pertama Huzaifah bin al Yamani dan adalah keluaran dari Madrasah yang pernah didirikan oleh Huzaifah bin Al Yamani. 
Selanjutnya, untuk lebih jelas disini perkembangnan akan dibagi tasawuf menjadi empat fase. 

1. Fase pertama:

Bermula pada zaman sahabat hingga akhir abad kedua Hijriah. Para sahabat seperti Abu Zar al-Gifari telah memperjuangkan hidup zuhud dan menjauhkan diri dari dunia. Kecenderungannya kepada hidup sederhana menyebabkan beliau tidak bisa memegang jabatan sebagaimana sabda Rasulullah kepadanya:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ

Terjemahan: “Wahai Aba Zar! Sesungguhnya engkau lemah, sedangkan ia (jabatan itu) adalah amanah dan ia adalah dukacita dan penyesalan pada Hari Kiamat” (H.R Muslim)
Kehidupan seperti ini kemudian dilanjutkan oleh beberapa orang zuhud lainnya. Mereka dikenal sebagai al-zuhhad al-awa’il (golongan zuhud yang awal), mereka meniru akhlak Rasulullah S.A.W dan para sahabat r.a. Para ahli sufi ini menjalani ibadah dengan ikhlas, mujahadah jiwa mengekang hawa nafsu dan senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Dan pada waktu itu perjalanan kerohanian ini lebih berbentuk fardi (individu) bukan jama‘i (berkumpulan).
Pada fase ini berkisar pada kalangan para sahabat dan para tabi’in.
• Perkembangan tasawuf pada masa sahabat
a. Khulafaur Rasyidin
b. Salman Al-Farisi
c. Abu Dzar Al-Ghifari
d. Ammar bin Yasir
• Perkembngan taswuf pada masa tabi’in
a. Hasan Basri
Ia dikenal sebagai Ulama’ sufi yang sangat dalam ilmunya tentang rahasia-rahasia yang terkandung dalam ajaran islam, dan sangat menguasai ilmu batin.
b. Rabia’ah Al-Adawiyah
Ia terkenal sebagai Ulama sufi wanita yang mempunyai banya murid dari kalangan wanita pula.
Kalau Hasan menganut ajaran zuhud dengan menonjolkan falsafah tawakal, khauf, dan raja’. Maka Rabi’ah menganut ajaran zuhud dengan menonjolkan falsafah hubb (cinta) dan syauq (rindu) kepada Allah.

2. Fase kedua:
Tasawuf berkembang pada abad ketiga Hijriah hingga permulaan abad kelima. Dalam tempoh ini, aliran tasawwuf sudah lebih tersusun, bergerak dalam kelompok membentuk suatu gerakan di bawah pengawasan al-syeikh.
Pada fase ini arah tasawuf lebih tertumpu pada unsur akhlak dalam ilmu dam amal, memfokuskan pengkajian jiwa manusia dan bagaimana ilmu dzawq (rasa) dapat mengukuhkan hubungan manusia dengan Tuhan. Dari sinilah fikrah al-fana’ yang dipelopori oleh Abu Yazid al-Bistami. Di peringkat ini juga permulaan berkembangnya tarekat-tarekat kesufian. Muncullah golongan ahli mujahadah, kasyaf dan pengetahuan rohani. Mereka ini menambah unsur-unsur asing dalam amalan kerohanian selain apa yang diwarisi daripada generasi awal Islam. Hal ini mengakibatkan perubahan besar dalam pengamalan tasawwuf. Ia seakan-akan aliran yang jauh dari amalan Islam dan sukar untuk mendapatkan rujukannya dalam sumber Islam.
Oleh karena itu Ibn al-Jawzi berpendapat bahwa tasawwuf bermula dalam bentuk kezuhudan, ibadah, mujahadah jiwa dan istiqamah dengan syariat. Ini dapat membentuk dan mendidik jiwa lalu membawa penganutnya ke jalan yang lurus.
Pada abad keempat dan kelima Hijrah lahir kelompok-kelompok yang berusaha untuk memperoleh kasyaf dan mendapat berita-berita ghaib. Ini suatu usaha untuk menghadirkan perasaan manusia dihadapan Tuhan. Ahli sufi berusaha mengangkat hijab yang menghalangi dirinya untuk menyaksikan cahaya ketuhanan di dalam kehidupan di dunia ini. Ibn Sina menggambarkan situasi ini dengan kata-kata: “orang yang berpaling dari perhiasan dunia dan ke elokannya maka dia layak dipanggil ‘abid (ahli ibadah), orang yang mengalihkan fikirannya pada kesucian Tuhan yang abadi dan menghayati pancaran cahaya Al-Haqq (Tuhan Yang Maha Benar) secara sembunyi maka dia pantas dipanggil ‘arif (orang yang mengenal Allah)”.
 Ciri-ciri lain yang terdapat di abad ini, ditandai dengan semakin kuatnya unsur filasafat yang mempengaruhi corak tasawuf, dikarenakan sudah banyaknya buku filsafat yang terbesar di kalangan umat islam dari hasil terjemahan orang-orang muslim sejak permulaan Abbasiyah. Dan tokoh-tokohnya adalah Abu Yazid Al-Bushthami, Junaid Al-Baghdady, Al-Hallaj, Musa Al-Anshary, Abu Zaid Al-Adamy.

3. Fase ketiga:
Pada abad kelima, keenam, ketujuh dan kedelapan Hijriah, terdapat usaha-usaha yang agak intensif untuk memurnikan kembali apa yang telah bercampur aduk sebelumnya. Al-Ghazali, Ahmad al-Rifa‘ie, Abdul Qadir al-Jilani, Abu al-Hasan al-Syazili, Ibn ‘Ata’illah dan lain-lain mencoba mendekatkan praktek tasawwuf pada sunnah nabi. Mereka tidak menerima selain ajaran yang sesuai dengan al-Quran dan al-Sunnah. Ibn al-Qayyim sendiri sebagai tokoh aliran salafi mengambil peranan yang besar dalam membentuk jiwa baru tasawwuf agar bertendensi pada al-Quran dan al-Sunnah. Usaha ini dapat mendekatkan tasawwuf dengan faham Ahli al-Sunnah wa al-Jamaah.
Adapun tokoh-tokoh selain yang disebut di atas adalah Syihabuddin Abul futu As- Surawardy, Al-Ghaznawy, Umar ibn faridh, Ibnu sabi’in dan Jalaluddin Arrumy.

4. Fase keempat:
Bermula sekitar abad kelapan aliran tasawwuf tidak lagi memunculkan tokoh yang benar-benar berpengaruh. Justru kelompok yang ada hanya meneruskan ajaran pendahulunya. Dan mereka lebih focus pada sudut amaliah. Mereka memperbanyak bentuk-bentuk amalan kesufian hingga mereka tidak lagi membahas akidah kesufian. Mereka lebih senang wirid dan zikir, berlindung di penjuru-penjuru masjid dan madrasah, mengasingkan diri dari dunia.
Dan pada abad selanjutnya ajaran tasawuf betul-betul sangat sunyi di dunia Islam. Berarti nasibnya lebih buruk lagi dari keadannya pada abad keenam, ketujuh dan kedelapan.
Banyak di antara peneliti muslim yang menarik kesimpulan bahwa dua faktor yang sangat menonjol yang menyebabkan runtuhnya pengaruh ajaran tasawuf di dunia islam, yaitu:
 Karena memang ahli tasawuf sudah kehilangan kepercayaan di kalangan masyarakat islam.
 Karena ketika itu, penjajah bangsa Eropa yang beragama Nasrani sudah menguasai seluruh negeri islam. 
 

WelcoMe TO mY bLOG....

Filed under: by: Tanfux

Selamat datang di blogku, kawan....

Kamu sekarang sekarang sedang beruntung, karena hanya orang keren yang bisa membuka blog ini. Maka, jika kamu merasa "no keren", kamu benar-benar sedang dalam keberuntungan yang benar-benar menguntungkan...